Sunday, December 17, 2006

TIPS Memenej Rapat yang Baik

Keteraturan kerja sebuah jamaah dimulai dari keberhasilan mereka dalam melangsungkan rapat-rapat kecil. Sebaliknya kegagalan sebuah jamaah dimulai dari kegagalan mereka dalam mengatur rapat-rapat tersebut.

Kita bisa memberikan penilaian terhadap sebuah jamaah melalui keberhasilan mereka dalam melakukan rapat atau melalui hasil kerja mereka dalam satu proyek tertentu. Jika permulaannya buruk maka selanjutnya akan lebih buruk. Rapat-rapat jamaah adalah tolok ukur keberhasilan atau kegagalan operasional. Maka untuk dapat melakukan rapat yang baik diperlukan syarat:

1. Taqayyud bi mau'id ijtima' ‘Tepat waktu'
Faktor kegagalan sebuah rapat yang paling dominan adalah keterlambatan dari waktu yang telah ditentukan meskipun hanya beberapa menit. Karakter yang menganggap sepele waktu yang terhitung dalam detik tentu akan menganggap sepele waktu yang terhitung dalam jam atau bahkan lebih dari itu. Karakter yang tidak disiplin dengan aturan waktu tentu tidak akan disiplin dengan aturan syariat atau bahkan ia tidak akan bisa berdisplin terhadap aturan apapun. Waktu dalam sudut pandang syariat dan tradisi adalah ibarat janji yang harus ditepati. Allah swt berfirman, "Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan dipertanyakan." (QS. Al-Isra:34)
Al-Quran memberikan sifat kepada orang-orang mukmin dengan. "Dan orang-orang yang menepati janji mereka ketika mereka berjanji." (Al-Baqarah: 176). "Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka." (Al-Mukminun: 8) Ketika memberikan sifat bagi orang-orang munafik, Rasulullah saw bersabda, "Jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat."

2. Rahmaniyah Ijtima ‘Rapat yang dipenuhi nuansa keimanan'
Upaya maksimal agar sebuah rapat tetap dalam nuansa keimanan tentu akan menjadikan rapat tersebut diberkahi oleh Allah swt. Diberi kemudahan dan dibimbing ke arah kebenaran. Sebaliknya, sebuah rapat yang sama sekali tidak ada nuansa keimanan tentu akan dikendalikan oleh kemauan setan dan tidak akan menghasilkan suatu kebaikan sedikit pun. Oleh karena, setiap peserta rapat harus siap mental agar rapat tidak berjalan alot dan meninggalkan rasa sakit hati sehingga merusak hubungan ukhuwah.

Mulailah rapat dengan membaca isti'adzah, beberapa ayat Al-Quran dan doa, agar diberi kemudahan oleh Allah swt, dihadiri oleh para malaikat, dipenuhi kasih sayang dan kedamaian serta disebut oleh Allah swt. Di hadapan para makhluk langit. Bukan hal yang main-main ketika Rasulullah saw bersabda; "Sesungguhnya setiap amal perbuatan yang tidak dimulai dengan Basmallah maka amal tersebut akan terputus".

3. Maudhu'iyyatu Munaqasyan ‘Mengedepankan objektivitas dalam berdiskusi.
Di antara faktor pendukung keberhasilan sebuah rapat dan diskusi adalah adanya objektivitas dalam membahas setiap permasalahan dan menjauhi sikap emosi. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
a. Adanya kejelasan tema yang akan dibahas sebelum diskusi dimulai.
b. Tidak beralih ke tema lain sebelum ada kesimpulkan berkaitan dengan tema yang sedang dibahas.
c. Tidak mengulangi tema yang pembahasannya sudah tuntas kecuali jika ada alasan yang mendesak.
d. Menunda pembahasan tema yang aspek-aspeknya belum jelas.
e. Mengemukakan pendapat secara tertulis terutama berkaitan dengan tema-tema penting dan serius.
f. Membagikan makalah yang akan dibahas kepada peserta sebelum diskusi dilakukan sehingga ada kesempatan untuk menelaah tema yang akan dibahas.

4. Adabun Munaqasyah ‘Diskusi'
a. menghindari penggunaan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan atau menghina pendapat orang lain dan segera meminta maaf apabilahal itu terlanjur terjadi.
b. Mendengarkan dengan seksama setiap pendapat yang disampaikan meskipun pendapat tersebut keliru.
c. Tidak menaruh sentimen pribadi kepada pihak tertentu.
d. Merendahkan suara secukupnya.
e. Semua pihakhendaknya menghindari perasaan bahwa pendapatnyalah yang paling benar.harus menanamkan sikap bahwa kerendahan hati dan kesiapan semua pihak untuk menerima pendapat yang paling benar akan menjadikan mereka dibimbing dan dimudahkan oleh Allah swt. untuk memilih pendapat yang paling benar.
f. Menjauhkan rapat dan diskusi sebagai ajang menyudutkan pihak lain, ghibah ‘bergunjing', melakukan manuver-manuver jahat atau sifat-sifat lain yang tidak baik.

Inilah beberapa faktor keberhasilan sebuah rapat. Jika faktor-faktor ini terpenuhi maka sebuah rapat akan dipenuhi rasa harap. Namun, jika faktor-faktor ini tidak terpenuhi maka sebuah rapat hanya menjadi kubangan racun yang menebarkan kecemasan dan keputusasaan. Na'udzu billah.



Pengirim: Aidil Heryana

Friday, September 29, 2006

Tips Menulis "Latar Belakang"

hdn.or.id - Dalam menulis sebuah proposal, skripsi, tesis, dan tulisan formal lain yang sejenisnya (selanjutnya kita sebut sebagai Tulisan), biasanya ada satu bagian yang namanya "Latar Belakang". Latar belakang ini pada umumnya ada di bagian pertama pada Tulisan, atau di BAB Pendahuluan. Namun tidak jarang di antara kita merasa bingung apa yang harus ditulis pada bagian "Latar Belakang" itu. Sehingga banyak di antara kita yang menganggap bahwa Latar Belakang itu sekedar basa-basi, tidak relevan dengan isi Tulisan, atau sekedar pembukaan biasa.

Padahal Latar Belakang justru bagian yang penting sebagai titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai apa penyebab munculnya Tulisan kita. Dari Latar Belakang lah dapat kita perlihatkan sebuah "milestone" kepada pembaca. Latar Belakang lah yang memberikan penjelasan rasional mengenai penyebab mengapa Tulisan kita muncul.

Berikut ini saya coba uraikan beberapa hal agar dapat membantu menyusun "Latar Belakang". Latar belakang terdiri dari tiga unsur, yaitu:

1. Kondisi ideal
2. Kondisi saat ini
3. Solusi / suatu hal untuk mengatasi gap antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal

[More:]

1. Kondisi Ideal

Kondisi ideal menggambarkan sebuah keadaan yang menjadi tujuan, dicita-citakan, atau impian. Dalam sebuah organisasi, kondisi ideal biasanya diuraikan dalam sebuah visi misi. Kondisi ideal juga bisa berarti suatu kondisi jangka pendek / jangka menengah / jangka panjang yang ingin dicapai, khususnya yang berkaitan dengan Tulisan yang akan Anda rumuskan. Ibaratnya perjalanan, kondisi ideal ini adalah kota tujuan yang ingin dicapai.

2. Kondisi Saat Ini

Kondisi saat ini menggambarkan keadaan yang secara realita benar-benar terjadi pada saat ini. Uraikan kondisi realita tersebut, terutama yang berkaitan dengan tulisan yang sedang dirumuskan. Dan nantinya akan dikaitkan dengan kondisi ideal di atas, akan ditarik benang merahnya. Ibaratnya perjalanan, kondisi saat ini adalah ungkapan tentang: sudah sampai mana perjalanan kita, apakah sudah sampai 10 KM, sudah sampai kota X, atau bahkan belum jalan sama sekali.

3. Solusi

Pada bagian ini, barulah diuraikan hal-hal yang akan dilakukan/ditulis/diteliti/dll dalam rangka mengatasi gap antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Ibaratnya perjalanan, solusi ini adalah usaha yang akan kita lakukan untuk menuju kota tujuan dari posisi perjalanan kita saat ini. Solusi inilah yang akan menjadi inti dari Tulisan kita nanti. Setelah semua diuraikan dalam Latar Belakang, barulah sub-bab berikutnya. Misalnya sub-bab permasalahan yang menggambarkan masalah apa saja yang mungkin akan dihadapi dalam melaksanakan solusi/Tulisan yang akan dikerjakan. Lalu subbab-subbbab lainnya, misalnya Tujuan, Sasaran, dll.

Oke, selamat menulis.

___
by : Hendratno
Dimuat juga di Hudzaifah.org